Bermodalkan Si Peppo, AHY Mau 'Menyelamatkan' Jakarta Agar Lebih Humanis

Oleh: Muhammad Ramli

DETIK METRO - Penunjukan AHY sebagai calon gubernur DKI, tidak mengherankan publik. SBY sebagai ayah dari AHY, mempunyai andil besar dalan penunjukkan anaknya tersebut. SBY yang merupakan mantan presiden selama 10 tahun, tokoh penting Partai Demokrat dan Koalisi Cikeas ingin menjadikan AHY sebagai penerus kekuasaan Dinasti Cikeas. Dalam pencalonannya, AHY hanya bermodalkan peppo (bapak).

Ada tiga teori dalam kelahiran pemimpin (Sunindhia dan Ninik Widiyanti, 1988:18), salah satunya adalah Teori genetik. Teori ini berpendapat bahwa, “pemimpin itu dilahirkan dan bukan dibentuk”. Biasanya, teori keturunan ini hanya terjadi pada  kalangan bangsawan dan keturunan raja-raja. Hanya karena orang tua menjadi raja, maka anak yang dilahirkan menjadi raja.

Teori diatas tidak berlaku untuk negara demokrasi seperti Indonesia. Di Indonesia, masyarakatlah yang memiliki kekuasaan tertinggi. Pemimpin-pemimpin yang ada saat ini merupakan buah dari legitimasi rakyat, bukan dari keturunan.

Sebenarnya, di dalam tubuh Partai Demokrat banyak para tokoh yang sudah lama mengabdi dan memiliki wawasan luas tentang perpolitikan dan pemerintahan Indonesia, macam Saan Mustofa, Amir Syamsudin, Andi Arief, Roy Suryo, dan beberapa tokoh lainnya. Namun, SBY lebih memilih anaknya untuk dijadikan sebagai calom pemimpin daerah.

AHY yang berlatarbelakang militer, sama sekali tidak mempunyai pengalaman di bidang pemerintahan dan perpolitikan tanah air. AHY banyak menghabiskan waktunya di kemiliteran, selama 16 tahun lamanya. Pangkat terakhirnya, hanyalah Mayor Infanteri. Pengalaman memimpin para prajurit tentu sangat berbeda dengan memimpin masyarakat yang sangat beragam dengan permasalahan yang sangat kompleks.

Nampaknya, fakta tentang AHY ini tidak dipertimbangkan betul oleh SBY. Padahal masih banyak tokoh lain yang lebih matang untuk ditunjuk sebagai Calon Gubernur DKI. Sebagai orang yang paling berpengaruh di tubuh Demokrat, SBY mempunyai kuasa untuk menentukan siapa saja yang akan dicalonkan. Ditambah lagi, posisinya sebagai mantan presiden cukup penting untuk dimintai pendapat.


Ambisi SBY

Pilkada DKI kali ini serasa pemilihan presiden. Sehingga, banyak tokoh penting turun gunung untuk memenangkan calon kontestan, termasuk SBY. AHY sebagai Calon Gubernur DKI  dari Partai Koalisi Cikeas sekaligus anak dari SBY ikut diperjuangkan menuju DKI 1.

Menurut teori Adler tentang Inferioritas, bahwasanya manusia sejak ia keluar dari rahim ibu. anak hidup dengan bergantung pada orang tua, dan perasaan bahwa ia tidak bisa melakukan apapun sendiri. Adler menganggap bahwa perasaan inferior inilah yang menuntun manusia berkembang. Manusia ingin lepas dari perasaan inferioritas, menuju manusia superior dan sempurna.

Inferioritas AHY dalam menghadapi Pilkada tentu dirasakan SBY. Ia sadar bahwa AHY tidak mempunyai pengalaman dalam perpolitikan dan pemerintahan. Maka dari itu, ia menggunakan pengaruhnya untuk sebisa mungkin membantu AHY menuju DKI 1. Seperti dalam pidatonya yang ingin mempengaruhi massa untuk melakukan demo “411” dan menuntut Ahok segera diproses.

Sebagai mantan presiden selama 10 tahun RI, seharusnya SBY ikut menenangkan suasana ketika itu. Suasana ketika itu begitu mencekam perihal kasus Ahok , lawan politik AHY. Akan tetapi, apa yang dilakukan SBY dalam pidatonya, justru menghasut massa untuk melakukan demo. Secara tidak langsung, SBY dalam pidatonya sedang berusaha menaikkan Elektabilitas AHY, yang ketika itu dibawah Ahok.

Di dalam pidatonya sendiri, dua hari menjelang demo “411”, SBY mengatakan, “Kalau (pendemo) sama sekali tidak didengar, diabaikan, sampai Lebaran kuda masih ada unjuk rasa itu. Kalau beliau diproses, tidak perlu ada tudingan Pak Ahok tidak boleh disentuh”

BACA: Tahu 10 Hal Ini, Cukup Bagi Kita Untuk Tidak Mencoblos AHY Jadi Gubernur DKI Februari Nanti

Menurut pengamat Politik dari LIPI, Ikrar Nusa Bhakti. Pernyataan SBY tentang demo menuntut proses hukum kasus Basuki Tjahaja Purnama dinilai seolah-olah berbau provokasi. Menurutnya , Kalau memang semua pimpinan RI ingin menunjukkan kenegarawanan, tunjukkan rasa damai, rasa tenteram, rasa nyaman dari seluruh warga Indonesia terjaga.

Dalam berkompetisi, dari olahraga bahkan Pilkada, kualitas kemampuan seseorang merupakan kunci utama untuk memenangkan sebuah kompetisi. Sedangkan kemampuan oranglain, hanyalah dorongan saja untuk meningkatkan kualitas kita, bukan mencampurinya. SBY sudah melangkah lebih jauh dalam Pilkada anaknya, AHY. Dan terlihat jelas, AHY hanya bermodalkan peppo (bapak) semata. (Sumber: Qureta.com)

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Rubrik Opini menampung artikel yang sepenuhnya adalah padangan pribadi penulis dan tidak mewakili redaksi. Isi dan pandangan dalam opini merupakan tanggung jawab penulis. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
© Copyright 2017 DetikMetro.com - All Rights Reserved